Senin, 28 Maret 2016


Biji benguk yang melimpah di daerah Wonogiri, Jawa Tengah ternyata juga bisa memancing kreativitas warganya. Biji benguk itu diolah menjadi penganan khas seperti keripik tempe. Namanya keripik tempe benguk. Sekilas, cemilan ini hampir serupa dengan keripik tempe dari biji kedelai. Namun, ada rasa berbeda saat kita mencicipinya. Rasa keripik tempe benguk lebih gurih meski sedikit lebih keras. Salah satu keripik tempe benguk yang mudah didapatkan di kota Wonogiri dan sekitarnya adalah milik Tumini. 

Tumini bercerita, sebenarnya usaha keripik tempe sudah dimulai oleh orangtuanya sejak lama. Jadi sejak kecil ia memang sudah akrab dengan olahan keripik tempe. Akan tetapi, Tumini dan sang suami, Rakino, kemudian berinisiatif mencoba mengganti biji kedelai dengan biji benguk untuk diolah menjadi keripik tempe. Sejak tahun 2000, ia pun mulai menawarkan keripik tempe benguk dengan harga Rp 600 saja, karena saat itu masih diecer dan dijual keliling.

Ternyata respons yang datang cukup mengejutkan Tumini. Banyak yang suka dengan keripik tempe benguk kreasinya. Dari semula hanya mengolah keripik tempe benguk sebanyak 2 kilo, Tumini kemudian terus meningkatkan kapasitas produksi. Dan lama kelamaan keripik tempe benguknya justru dijadikan oleh-oleh dan laku keras. Tumini tentu saja amat bangga karena olahan tempe benguk ini kini sudah makin marak di kota Wonogiri. Sekarang memang sudah banyak pengrajin keripik tempe benguk, karena cemilan ini berhasil menjadi pilihan lain oleh-oleh khas Wonogiri selain kacang mete.


Untuk mengolah keripik tempe benguk, Tumini yang berproduksi di Grobog, Wuryorejo, Wonogiri ini perlu menjalani proses yang panjang serta butuh kesabaran karena memang cukup rumit. Biji benguk harus direndam selama lima hari lima malam baru bisa dicampur dengan adonan tepung beras. Kemudian ditambahi bumbu untuk dijadikan keripik tempe. Sampai kini produksi olahan keripik tempe benguk Tumini masih terus meningkat. Setidaknya ia memproduksi hingga 15 kilo setiap harinya bahkan bisa lebih hingga dua kali lipat saat libur hari besar. Tumini menginginkan, ke depannya keripik tempe benguk ini tidak hanya memiliki rasa yang original saja, tetapi juga ada rasa lainnya sebagai inovasi. Sekarang Tumini menjual keripik tempe benguk olahannya dengan harga yang masih terjangkau, mulai Rp 10 ribu hingga Rp 18 ribu untuk ukuran mika bulat yang besar.

Salah satu kendala yang dihadapi Tumini saat mengolah cemilan khas Wonogiri ini adalah ketika biji benguk tidak panen. Meskipun sebetulnya keberadaannya cukup melimpah di Wonogiri, terlebih saat musim panen, tetapi pernah pula ia mengalami kesulitan mendapatkan biji benguk. Kalau sudah begitu, mau tak mau ia mengganti produksinya dengan keripik tempe biasa. Hasil olahan keripik tempe benguk Tumini tak hanya dipasarkan di wilayah Wonogiri saja, tetapi sudah tersebar hingga Sukoharjo. Selain dengan cara titip jual di toko oleh-oleh di Pasar Kota, ia juga menjualnya ke beberapa pasar seperti Pasar Eromoko dan Ngadirojo. Tumini bersyukur, keripik tempe benguk olahannya banyak yang menyukai.

0 komentar:

Posting Komentar